Tuesday, March 9, 2010

rob mclennan Interview @ The Torontoist

My “critical interview” series continues in the electric pages of The Torontoist’s book section. In this, the fourth incarnation, I spent some time with the prolific poet, novelist, and essayist, rob mclennan. The headline at The Torontoist says that I “drop the gloves”, which might be true (why ask question if they’re not going to be hard ones?). But I don’t know, looking at the final interview with a hockey metaphor in mind, I would suggest that a colour commentator would describe this interview as chippy. It was a chippy interview, especially in that first period.

Anyway. rob should know three things. A. He has my respect, B. His Richard Brautigan book was the first collection of Canadian poetry I ever bought that wasn’t written by someone named Cohen and C. I like some of his books more than others. Here’s an excerpt from the beginning of the interview. But you’re better off clicking here and just going to the full thing.

**

jacob mcarthur mooney: well, to start, i’ve decided to adopt as much of the rob mclennan personal grammatical lexicon as i can: lower-case letters, few periods, etc; consider it both a homage and my personal stanislavskyian method-interviewing exercise. anyway, you’re a guy who publishes a lot of books; between the novels, the poems, and the essays we’ve seen as many as five new titles a year. my first question pertains to rob mclennan’s cutting room floor: what’s on it? anything? are you someone who writes at a prodigal clip, and then pares away; or are you someone who finds an eventual home for most of what he begins as a first draft?

rob mclennan: first draft never even makes it out of the house; editing happens regularly, and even daily. hell, i just cut 20% out of a poetry manuscript that im still trying to find a home for. you wouldn’t believe what gets left on that “cutting room floor,” including whole manuscripts. but why do i keep having to counter notions that everything i publish is first draft, and everything i write i push to publish? there were 3 unpublished novels i abandoned before white appeared in 2007, and 3 others not given up on yet, some going back a decade. some of those long essays (McKinnon, Fiorentino, Suknaski) took up to eight months to compose, revise, even with daily work. my second poetry collection was six years between the first few lines and final publication.

everything takes its own time, im just a few books ahead. apparently Kinsella is always four books ahead, between writing and publishing, in that queue. would he ever be asked the same?

[Via http://voxpopulism.wordpress.com]

Chef Vindex Valentino Tengker - Kerja Sambil Bulan Madu -

Chef Vindex

Harumnya bau makanan menemani sesi pemotretan kami bersama chef Vindex Valentino Tengker di main kitchen Hotel Four Season Jakarta. Senyum dan gayanya terlihat begitu luwes dihadapan fotografer kami. Vindex ternyata bukan orang yang sulit untuk bergaya di depan kamera. Maklum, ia terbiasa berhadapan dengan kamera dan lampu studio sejak menjadi chef di program “Taste of Indonesia” sebuah acara memasak yang ditayangkan Metro TV dalam session Indonesia Now.

“Sejak kecil saya biasa membantu nenek saya di dapur dan melihat bagaimana dia memasak. Dari sanalah muncul ketertarikan pada makanan, dasarnya saya juga memang suka makan dan cocok makan apa saja. Saya rasa memasak adalah bakat karena ada orang yang juga senang memasak tapi selalu gagal. Nah, saya tipe orang yang sebaliknya, mungkin tangan saya dingin untuk memasak. Setelah besar, akhirnya saya putuskan sekolah di perhotelan dan mendalami ilmu memasak ini,” ujar Vindex panjang lebar.

Pilihannya tidak salah, karir Vindex melesat cepat di dunia masak-memasak ini. Ia merintis karir di Amandari Hotel, Ubud Bali sebagai Indonesian Chef. Selanjutnya bisa ditebak, Vindex pun mondar-mandir menjadi chef di beberapa resort hotel dan bahkan sempat merasakan bekerja di Mallorca, Spanyol dan Los Angeles, Amerika Serikat. “Waktu tahun kedua bekerja di Spanyol saya baru saja menikah. Jadi saya boyong istri sekalian bulan madu di sana, itu pengalaman yang menyenangkan,” ujar Vindex sambil tersenyum.

Berbincang dengannya serasa tidak membosankan, sikapnya yang ramah membuat obrolan kami siang itu terasa hangat. Ya, kami ibarat dua sahabat yang lama tidak bertemu dan akhirnya saling bercerita kabar masing-masing. “Dulu sewaktu baru saja merintis karir sebagai chef, saya sempat gugup ketika disuruh menemui tamu dan menanyakan bagaimana rasa masakannya. Bagi saya hal itu tidak mudah, seperti orang yang baru belajar pidato di depan banyak orang.”

Pengalaman yang cukup dikenangnya adalah ketika pertama kali membuat makanan khas Indonesia untuk tamunya. “Waktu itu kami bikin rawon. Karena tidak tahu, bumbu buah kluwak yang kami pakai kualitasnya jelek sehingga rasa rawonnya pahit. Wah, harus bikin ulang deh dan lebih teliti lagi dengan bumbunya.” Kini selain dikenal piawai mengolah masakan Eropa, Vindex juga mahir menyiapkan berbagai menu khas Indonesia.

“Waktu tes memasak menu Indonesia, saya harus menyiapkan 60 menu Nusantara dalam waktu dua minggu. Ini tantangan dan akhirnya bisa saya lewati. Tamu-tamu mancanegara sekarang banyak yang suka makanan Indonesia, tidak lagi nasi goreng dan mie goreng, tapi juga rawon, nasi campur Bali dan menu-menu lainnya,” ujar pria yang telah dikaruniai dua anak ini.

Di usia yang relatif muda, 29 tahun, untuk ukuran chef eksekutif hotel bertaraf internasional seperti Four Season, Vindex tentu punya banyak pengalaman bertemu dengan orang-orang penting yang menjadi tamunya. “Ya, profesi ini memang memungkinkan untuk itu. Diana Ross, Whitney Houston, Bobby Brown, Nicolas Cage sampai Donald Rumsfeld, Sultan Brunei Darusalam dan Ratu Belanda adalah beberapa nama yang pernah menjadi tamu di tempat saya bekerja. Meskipun tidak secara langsung bertatap muka dengan mereka tapi rasanya puas jika masakan kita bisa cocok dengan selera mereka. Beberapa tamu negara punya aturan sendiri untuk menu makanannya, kita tinggal mengikuti standarnya saja.”

Bukan tidak mau membuka usaha sendiri jika Vindex masih tetap setia bersama Hotel Four Season. “Tawaran untuk membuka resto memang banyak datang ke saya, tapi saat ini belum direalisasikan. Saya masih ingin berkeliling ke luar negeri dan kesempatan itu terbuka bersama Four Season yang punya 73 hotel di 22 negara seluruh dunia. Suatu saat nanti saya pasti akan memikirkan untuk stay dan membuka tempat sendiri. Bisa dimana saja kan, tidak harus di Indonesia?” ujarnya mengakhiri obrolan hangat kami siang itu. (yuk)

[Via http://pakdedungpret.wordpress.com]